Asal Mula Negeri Lipatkain Versi 2 – Kampar

Asal Muna Nama Negeri Iipatkain. (Ilustrasi: folklor.kosabudaya.id)

Sesampainya di pelabuhan, emak Si Lancang hampir tidak percaya melihat kemegahan kapal anaknya. Ia tidak sabar lagi ingin berjumpa dengan anak satu-satunya itu.

Saat hendak naik kapal, tiba-tiba anak buah Si Lancingg menghalanginya.

Bacaan Lainnya

”Perempuan jelek! Jangan coba-coba naik ke kapal ini. Pergi dari sini!” usir seorang anak buah Si Lancang.

“Tapi… ambo Emak Si lancang”, lirihnya.

Tiba-tiba Si Lancang muncul dan berkata.

”Bohong…! Aku tidak pernah punya emak miskin dan tua renta seperti dia. Usir dia dari kapalku”, teriak Si Lancang yang berdiri di samping istri-istrinya.

Rupanya ia malu juga jika istri-istrinya mengetahui bahwa wanita tua dan miskin itu adalah emaknya.

”Oh Lancang… anakku! Emak sangat rindu padamu Nak!” rintih Mak Lancang.”

“Usir perempuan gila itu dari kapalku,” Teriak Si Lancang.

Anak buah Si Lancang mengusir emaknya dengan kasar. Ia didorong hingga terjembab.

Dengan hati yang sedih emak Si Lancang pulang ke gubuknya. Di sepanjang jalan ia menangis. Ia tidak menyangka anaknya tega berbuat seperti itu kepadanya.

Sesampainya di rumah, emak Si Lancang mengambil lesung dan nyiru pusaka. Ia memutar lesung itu dan mengipasinya dengan nyiru sambil berkata.

”Ya, Tuhanku. Si Lancang telah aku lahirkan dan telah aku besarkan dengan air susuku. Namun setelah menjadi orang kaya, tidak tidak mau mengakui ku sebagai emaknya. Ya Tuhan, tunjukkan kepadanya kekuasaan-Mu!”

Tiba-tiba turun hujan yag sangat lebat, petir menggelegar menyambar kapal Si Lancang. Gelombang Batang Kampar menghantam kapal Si Lancang hingga hancur berkeping-keping. Semua orang yang berada di kapal megah itu berteriak kebingungan, sementara penduduk kampung berlarian menjauhi sungai.

“Emakkkkk… Lancang anak Emak pulang. Maafkan aku, Maaaaaak!” terdengar sayup-sayup teriakan Si Lancang di tengah topan dan badai. Akhirnya Si Lancang tenggelam bersama kapalnya yang megah. Barang-barang yang ada di kapal melayang-layang. Kain berlipat dan bertumpuk menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri.

Sebuah gong terlempar dan jatuh di dekat gubuk emak Si Lancang di Air Tiris, menjadi Sungai Ogong di Kampar Kanan. Sebuah tembikar pecah dan melayang menjadi pasubillah yang terletak berdekatan dengan Danau Si Lancang. Di danau itulah tiang bendera kapal Si Lancang tegak tersisa.

Bila sekali waktu tiang bendera itu tampak muncul kepermukaan danau, maka pertanda akan datang atau akan terjadi banjir di Batang Kampar. Banjir itulah air mata Si lancang yang menyesali perbuatannya yang durhaka kepada emaknya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *