Permainan angga adalah salah satu permainan tradisional masyarakat Melayu yang bersifat hiburan dan jenaka, meskipun diwarnai suasana menegangkan dan menakutkan. Permainan ini dikenal sebagai permainan menakut-nakuti anak gadis pada malam hari, terutama ketika mereka pulang mengaji dari surau atau rumah guru mengaji.
Permainan ini umumnya dilakukan oleh anak-anak laki-laki remaja atau pemuda desa, dengan tujuan bercanda dan menggoda teman sebaya mereka, bukan untuk mencelakai atau menakut-nakuti secara sungguh-sungguh. Meski demikian, permainan ini sering menimbulkan kehebohan dan tawa setelah rahasia di balik “hantu” terbongkar.
Waktu dan Tempat Bermain
Permainan Angga biasa dimainkan pada malam hari, terutama saat malam gelap tanpa bulan atau pada waktu sepulang salat isya dan mengaji. Lokasi permainan biasanya di jalan-jalan kecil di perkampungan, dekat surau, atau di tepi kebun kelapa, di mana pencahayaan alami sangat minim sehingga suasana tampak mencekam.
Perlengkapan Permainan
Alat utama yang digunakan dalam permainan ini adalah mayang kelapa tua dan kering (tangkai bunga kelapa yang telah mengering).
Sebanyak enam batang mayang kelapa disiapkan, lalu ujungnya dibakar sehingga tampak menyala kemerahan seperti bara api.
Pemain yang berperan sebagai “hantu” mengenakan mayang tersebut dengan cara:
- Dua batang diselipkan di antara jari-jari kaki,
- Dua batang di antara jari-jari tangan, dan
- Dua batang lagi dipegang atau digigit di mulut.
Dalam kegelapan malam, cahaya merah menyala dari enam titik tersebut tampak seperti mata dan kuku makhluk halus, menciptakan kesan menyeramkan dan mistis.
Aturan dan Tatacara Permainan
Setelah perlengkapan siap, pemain “hantu” bersembunyi di tempat gelap di pinggir jalan yang sering dilalui anak-anak gadis pulang dari mengaji.
Ketika para gadis itu lewat, “hantu” akan muncul tiba-tiba, menjerit, atau mengeluarkan suara aneh untuk menakut-nakuti mereka.
Biasanya, anak-anak gadis yang belum tahu akan ketakutan dan berlari, sementara teman-temannya yang lain menjerit atau berteriak memanggil.
Namun, setelah mereka menyadari bahwa “hantu” tersebut hanyalah teman sebaya yang sedang bergurau, suasana menjadi riuh dengan tawa dan canda. Sering kali, si “hantu” kemudian mengantarkan mereka pulang sebagai tanda persahabatan dan usai dari permainan.
Nilai dan Makna Permainan
Meskipun sederhana dan bersifat usil, permainan Angga memiliki nilai-nilai sosial dan budaya yang penting, antara lain:
- Kreativitas dan keberanian dalam berimajinasi menggunakan bahan alami dari lingkungan sekitar.
- Kekompakan dan keakraban sosial antar anak-anak kampung yang tumbuh bersama.
- Ekspresi kegembiraan dan humor rakyat, yang menjadi bagian dari dinamika kehidupan masyarakat desa pada masa lalu.
Permainan ini juga menggambarkan cara masyarakat tradisional berinteraksi secara jenaka tanpa alat modern, memanfaatkan alam, kegelapan, dan imajinasi sebagai bagian dari dunia permainan mereka.





