Selesai bernyanyi seperti itu tumbuh bulu sehelai di badannya. Ia terus juga bernyanyi dan tumbuh pula bulu sehelai lagi. Begitu seterusnya. Karena lama kelamaan bernyanyi, maka ratalah seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Kini ia telah menjelma menjadi seekor burung Punai. Ia pun terbang ke arah jendela ia terbang ke bumbung atap, kemudian barulah ia terbang tinggi ke udara. Dari udara terlihatlah olehnya ladang orang tuanya. Kemudian ia terbang ke arah ladang dan hinggap pada sepohon kayu ara yang tinggi. Dari atas pohon itu terlihat emak dan ayahnya sedang asyik menyiang rumput, ia pun bernyanyi:
Sing! Tali gasing
Alit gasing dan buah keras
Sampai hati ibu!
Ditanaknya saya gasing
Digulainya tali gasing
Menjadi punai saya kini
Makan buah kayu ara.
Mendengar nyanyian burung yang pandai bicara itu maka berkatalah emaknya,
“Ei, coba awak dengar! Kalau tidak salah. Seperti suara anak kita, Atan.”
“Mana pula, coba dengar baik-baik kata ayahnya.”
Mereka mendengar secara seksama suara nyanyian dari burung punai itu.
Sing! Tali gasing
alit gasing dan buah keras
sampai hati ibu!
ditanaknya saya gasing
digulainya tali gasing
menjadi punai saya kini
makan buah kayu ara.
“Iya,” kata ayahnya sambil mendengar dengan seksama.
“Itu memang suara anak kita,” lanjutnya memastikan.
Maka berteriaklah emaknya memanggil si Atan.
“Nak. kemarilah! Ini nasi…” teriak emaknya.
“Tidak… Saya sudah menjadi burung. Makan buah kayu ara,” kata anaknya yang telah menjadi bu¬rung punai itu.
Setelah berkata begitu ia terus mematuk buah kayu ara dari dahan satu ke dahan yang lain. Ayahnya merasa kasihan melihat nasib anaknya itu. Mengambil parang dan memotong dahan kayu ara tempat burung Punai itu hinggap. Ketika batang kayu yang ditebang putus, maka burung punai itu pun terbang ke dahan yang lain. Kemudian ia menyanyi lagi:
Sing! Tali gasing
Alit gasing dan buah keras
Sampai hati ibu!
Ditanaknya saya gasing
Digulainya tali gasing
Menjadi punai saya kini
Makan buah kayu ara.
“Marilah Nak, mari! Ini ada ibu bawakan nasi, Nak,” kata emaknya sedih.
“Tidak. Saya sudah menjadi Punai, makan buah kayu ara,” kata Punai itu.
Ditebang oleh ayahnya kayu ara tempat punai itu hinggap. Pohon itu pun tumbang. Punai itu terbang ke kayu yang lain. Demikian seterusnya dan akhirnya lama kelamaan kedua orang tua itu sudah jauh meninggalkan ladangnya. Perbekalan sudah habis, sedang jalan pulang sudah tidak tahu lagi. Oleh karena terlalu sayang kepada anaknya, maka kedua orang tua tadi meninggal dalam hutan itu.***
Cerita dikutif buku:
Derichard H. Putra. 2007. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau.





