Asal Nama Negeri Serombo – Rokan Hulu

Kampung. Ilustrasi.

Dengan alasan yang cukup kuat Datuk Tuanku Mudo bertahan untuk tidak menjualnya. Dengan demikian pulanglah orang utusan itu dengan tangan hampa. Hal ini disampaikanlah kepada Kepala Negeri Serombo.

Kepala Negeri Serombo mendengar laporan utusannya, merasa kecewa dan sakit. 

Bacaan Lainnya

“Sudah beberapa kali saya menginginkan periuk itu tapi belum juga didapat,” gumannya.

“Tapi aku tidak boleh berputus asa,” pikirnya lagi.

Tiga hari kemudian Kepala Negeri Serombo mengumpulkan orang cerdik pandai untuk melakukan perundingan bagaimana caranya mendapatkan periuk wasiat Datuk Tuanku Mudo. Dari perundingan itu didapatkan kata sepakat, bahwa mereka akan menukar periuk wasiat itu dengan periuk mereka yang bagus dan yang lebih besar.

Keesokkan harinya dikirimlah utusan ke dusun tempat tinggal Datuk Tuanku Mudo untuk melaksanakan penukaran tersebut.

“Telah berkali-kali kami datang kepada Datuk, maksud dan tujuan kami adalah ingin memiliki periuk yang Datuk punya. Hendak kami beli Datuk tak hendak menjualnya. Hendak kami pinjam Datuk juga tau mau meminjamkan. Sekarang kami minta agar Datuk mau bertukar dengan periuk kami yang bagus dan besar dari pada yang Datuk punya,” jelas utusan panjang lebar

“Bagaimana kalau kita bertukar saja? Biar Kami tidak bersusah-susah lagi ke sini,” pinta utusan yang lain.

Datuk Tuanku Mudo tidak menjawab. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, tanda tidak setuju. 

Lalu salah seorang dari utusan lalu berkata.

“Datuk seorang yang mujarab doanya, ambillah periuk ini dan doakanlah supaya bisa berlaku seperti periuk yang Datuk punya, bukankah periuk ini jauh lebih besar dari periuk Datuk,”

“Maaf tuan-tuan, sebenarnya periuk yang kami miliki tidak serupa dengan periuk lainnya. Periuk kami adalah barang wasiat, anugrah Illahi kepada kami, didapat karena niat suci, karena keimanan yang teguh serta ketaatan menunaikan amal ibadat, barangkali sebagai imbalan dari Allah kepada kami. Jadi tidaklah dapat Kami berikan, dijual ataupun ditukar dengan yang lain,” jawab Datuk Tuanku Mudo dengan tegas.

Mendengar jawaban Datuk Tuanku Mudo yang tak dapat ditawar-tawar lagi, maka pulanglah dengan melaporkan hal itu kepada pemimpin mereka. Mendapat laporan yang demikian, semakin panas hati Kepala Negeri Serombo, namun mereka tidak hendak emosi, malah mencari akal dan taktik lain.

Beberapa hari kemudian ia memanggil orang yang biasa diutus ke dusun tempat Datuk Tuanku Mudo tinggal. Kali ini dengan siasat yang lain dari yang lain.

Kepala Negeri Serombo mencoba menggunakan cara lain yang lebih lembut tapi menyakitkan, ia memerintahkan seorang utusan yang tampan dan gagah untuk melamar putri Datuk Tuanku Mudo. 

“Dengan menjadi menantu Datuk Tuanku Mudo, kehendak kita untuk mendapatkan periuk itu akan lebih,” pesan Kepala Negeri Serombo sebelum utusan berangkat melamar putri Datuk Tuanku Mudo.

Akhirnya berangkatlah utusan untuk melaksanakan perintah Kepala Negeri. Sesampai di dusun tempat Datuk Tuanku Mudo tinggal, dijelaskanlah maksud dan tujuan kedatangan mereka, yakni hendak melamar putri Datuk Tuanku Mudo.

Setelah mendengarkan penuturan utusan pembesar Serombo, anak gadis Datuk Tuanku Mudo mengucapkan banyak terima kasih karena telah datang meminangnya. Terbersit niat di hatinya untuk menerima pinangan itu, maklum yang datang adalah bujang gagah dan tampat, orang kaya, berpangkat serta keturunan bangsawan.

Namun tiba-tiba putri Datuk Tuanku Mudo menolak pinangan itu mentah-mentah. 

“Maaf! Saya tidak bisa menerima pinangan ini,” jawan putri Datuk Tuanku Mudo tegas.

“Kenapa! Bukankah segala adat telah kami penuhi, segala hantaran telah Kami berikan,” tanya salah seorang utusan terkejut.

“Kita berbeda kepercayaan, kami beriman kepada Allah Swt dan Rasulnya Muhammad Saw. Sedangkan tuan-tuan masih menyembah batang-batang kayu besar dan patung-parung yangk buat sendiri. kita sangat berbeda bak air dengan minyak, bak siang dengan malam. Bahkan lamaran Tuan-tuan seperti jauh panggang dari api,” jelas putri Datuk Tuanku Mudo tanpa ragu.

“Tuan-tuan sudah mendengar jawaban putri saya, sampaikanlah hal ini kepada Kepala Negeri Serombo. Bukan hamba dan putri hamba yang menolak tapi syariat yang mewajibkan seperti itu,” sambung Datuk Tuanku Mudo yakin.

“Jadi pinangan kami Datuk tolak?”

“Memang begitu hukum dalam ajaran agama kami, perempuan Islam tidak boleh menikah dengan orang lain yang tidak seiman,”

Mendengar jawaban Datuk yang demikian, salah seorang utusan itu naik pitam, lalu mencabut keris dan menikam dada dan perut Datuk Tuanku Mudo berkali-kali. 

Datuk Tuanku Mudo bersimbah darah tergelatak di lantai rumah. Sebelum ia menghembuskan nafat terakhir, ia berdoa kepada Allah Swt.

 “Ya Allah! Timpakan malapetaka kepada mereka, jadikanlah mereka batu untuk orang-orang zalim itu, begitu juga dengan harta benda mereka. Amin.”

Selesai berdoa, Datuk Tuanku Mudo menghebuskan nafas terakhirnya, alampun ikut bermuram durga, langit jadi gelap, angin bertiup dengan kencang, kilat dan petir sambung menyambung. 

Tak lama berselang, pulanglah para utusan ke istana, namun di tengah perjalanan tiba-tiba mereka mati ditimpa kayu yang tumbang, dan ada pula yang mati disambar petir. Begitu pula dengan pembesar dan hulubalang negeri Serombo, semuanya mati. Sedangkan Kepala Negeri beserta harta benda dan perlengkapannya serta hewan ternaknya tiba-tiba menjadi batu. Termasuk istana dan rumah-rumah pembesar dan hulubalang.

Kini, bila berkunjung ke Serambo, akan dijumpai manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang dan benda-benda lainnya seperti batu yang tergelatak di sudut-sudut negeri. Penduduk setempat percaya, batu-batu itu adalah jelmaan manusia-manusia zamin yang dikutuk Datuk Tuanku Mudo***

Sumber:
Derichard H. Putra, dkk. 2007. Cerita Rakyat Daerah Riau. Pekanbaru: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Riau

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *