Asal Nama Negeri Serombo – Rokan Hulu

Kampung. Ilustrasi.

SYAHDAN! Ketika daratan yang dihuni manusia sekarang masih lautan. Di sebuah negeri bernama Seromba, yang tidak seberapa jauh dari Pasirpengaraian. Hiduplah seorang ulama alim yang memiliki ilmu tiada tolak banding. Sang ulama yang bernama Datuk Tuanku Mudo tersebut amat rajin mengembangkan dan menyiarkan agama Islam, tidak hanya di negeri Seromba tempat ia bernaung, tapi juga di negeri-negeri lainnya yang jauh dari Serombo.

Kegigihan Datuk Tuanku Mudo mengembangkan ajaran Islam ternyata ditentang oleh Kepala dan Pembesar Negeri Serombo. Mereka tidak menginginkan kepercayaan nenek moyangnya yang menyembah pohon-pohon besar diganggu dan diganti oleh kepercayaan lain yang kini sedang dikembangkan oleh Datuk Tuanku Mudo. Namun berbagai usaha dan upaya yang dilakukan Kepala Negeri Serombo agar Datuk Tuanku Mudo berhenti dan tidak lagi mengembangkan ajarannya ternyata sia-sia belaka. Malahan Datuk Tuanku Mudo semakin gigih dan pengukutnyapun kian bertambah.

Bacaan Lainnya

Selain seorang ulama yang alim, Datuk Tuanku Mudo juga memiliki sebuah periuk ajaib. Walaupun bentuknya kecil, tapi apa bila dimasukan beras dan ditanak, maka isi periuk itu tidak akan habis di makan oleh orang sekampug. Karena itulah, penduduk yang ada di dusunnya tidak ada yang mati kelaparan seperti yang terjadi di dusun-dusun lainnya yang ada dalam Negeri Serombo.

Keanehan periuh Datuk Tuanku Mudo tersebut telah tersiar ke dusun-dusun tetangga lainnya. Kabar tersebut sampai juga ke telinga Kepala Negeri Serombo. Ia lalu memerintahkan hulubalangnya untuk menemui Datuk Tuanku Mudo, hendak mengundang ke istana menikmati hidangan lezat yang akan di masak oleh pemasak-pemasak handal istana.

Namun di balik undangan istimewah tersebut, ternyata tersimpan niat jahat dan keji dalam hati Kepala Negeri Serombo. Ia menginginkan Datuk Tuanku Mudo agar memakan daging babi dan anjing yang jelas-jelas bertentangan dengan agama Islam yang kini sedang disyiarkan Datuk Tuanku Mudo. Selain itu, Kepala Negeri Serombo tersebut juga menginginkan periuk ajaib menjadi miliknya. Dengan begitu, apabila datang musim panen yang gagal, ia dan keluarganya tidak akan mati kelaparan.

Sesungguhnya Datuk Tuanku Mudo tidak ingin menghadiri undangan tersebut. Tetapi ia teringat ajaran Islam yang menyatakan bahwa apabila ada orang lain yang mengundang, maka wajib untuk dipenuhi.

Pada waktu yang telah ditentukan, tibalah Datuk Tuanku Mudo di istana negeri Serombo. Kedatangannya disambut baik oleh kepala negeri beserta para hulubalang dan pembesarnya. 

Tidak berapa lama setelah tiba di istana, dihidangkanlah makanan yang nikmat dan lezat kepada Datuk Tuanku Mudo, namun dalam makanan itu ternyata telah dicampur dengan daging babi dan anjing.

Kepala negeri Serombo lalu mempersilahkan Datuk Tuanku Mudo untuk menikmati hidangan yang ada dihadapannya. Datuk Tuanku Mudo pun bersiap-siap hendak memakan hidangan tersebut. Namun sebelum ia menyantap makanan, Datuk Tuanku Mudo berdoa sebagaimana yang disyariatkan Islam. Namun keanehan terjadi ketika Datuk Tuanku Mudo selesai berdoa. Beberapa daging berhamburan keluar dari dalam mangkuk dan piring yang dihidangkan. 

“Astafirullah…” ujar Datuk Tuanku Mudo terkejut.

“Kenapa hal ini bisa terjadi?” Tanya kepala negeri heran.

“Allah tentu tidak menginginkan hambanya memakan daging yang tidak diizinkan-Nya.” Jawab Datuk Tuanku Mudo.

Akan hal kepala negeri dan pembesar istana melihat kejadian itu, mereka sangat malu. Namun mereka pura-pura tidak menghiraukan hal itu, lalu salah seorang hulubalang menanyai Datuk Tuanku Mudo.

“Mengapa Datuk tidak makan?”

“Kebetulan perut saya mual saja, tak ada selera makan,” jawab Datuk Tuanku Mudo membuat alasan. 

“Tuan menghidangkan makanan yang tidak layak dimakan, sehingga Allah memperlihatkan kekuasaannya,” lanjut Datuk Tuanku Mudo menjelaskan.

“Ya, tapi bukankah daging yang Datuk anggap haram tadi telah terbang, dan apa salahnya yang tertinggal kita makan?” Tanya hulubalang lagi.

“Tidak! Apa yang dinyatakan hukumnya haram adalah haram, tidak bisa ditawar-tawar sedikit pun, begitu juga dengan makanan ini, apabila yang halal ternoda oleh sedikit saja oleh yang haram, maka semuanya tetap akan jadi haram. Bukankan susu sebelangan akan rusak oleh nila setitik,” jelas Datuk Tuanku Mudo murkah.

  Selesai berkata begitu, Datuk Tuanku Mudo hendak pamit pulang, tapi pihak istana melarangnya.

“Datuk Tuanku Mudo, kami ingin berunding mencari mufakat dengan Datuk,” kata Ketua Pemimpin Negeri membuka pembicaraan.

“Hal apalagi yang harus dirundingkan?” Tanya Datuk Tuanku Mudo agak kesal.

“Kami menginginakn Datuk Tuanku Mudo menjual atau meminjamkan Kami periuk Datuk,” jawab Ketua Pemimpin Negeri.

“Tuan-tuan adalah orang yang kaya raya, lembih makmur dari kami. Sementara penduduk dusun kami masih banyak yang miskin, kalau periuk itu diserahkan kepada Tuan tentu penduduk kami akan banyak mati kelaparan,” elak Datuk Tuanku Mudo.

“Karana itu, jika tuan-tuan tidak membantu kami, maka relakanlah kami memakai periuk itu,” pinta Datuk Tuanku Mudo.

Mendengr kata yang beriba-iba itu, sejuk jugalah hati pembesar-pembesar negeri Serombo. Tak lama kemuduian Datuk Tuanku Mudo mohon diri pulang ke dusunnya.

Meskipun pada akhirnya pemuka masyarakat Serombo melepaskannya dengan muka yang jernih. Namun apa yang mereka hajatkan belum terkabul, masih terasa ada sesuatu yang terganjal di hati meraka. 

Beberapa hari kemudian, tibalah pula beberapa utusan dari Kepala Negeri Serombo untuk menemui Datuk Tuanku Mudo dengan maksud hendak membeli periuk wasiat tersebut, berapapun harganya akan mereka bayar.

Akan tetapi sungguh berat hati Datuk Tuanku Mudo berpisah dengan periuknya. Selain itu, anak gadis sang Datuk Tuanku Mudo melarang pula ayahnya menjual periuk itu, ia teringat bagaimana nasib orang-orang miskin di dusunnya jika periuk itu tidak bersama mereka lagi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *