Kampung Baganbatu

Baganbatu, Rokan Hilir. (foto: ist)

Baganbatu adalah sebuah perkampungan yang kini berkembang menjadi kota kecil di wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, Indonesia. Pada masa lampau, Baganbatu termasuk ke dalam wilayah Negeri Kubu, salah satu wilayah adat tua di pesisir timur Sumatra yang memiliki peranan penting dalam sejarah pemerintahan tradisional Melayu di kawasan Rokan.

Pada masa awal dan pertengahan kemerdekaan Indonesia, Baganbatu masih berstatus sebagai bagian dari Kecamatan Kubu. Perubahan administratif terjadi seiring berkembangnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di daerah ini, hingga kemudian wilayah Baganbatu ditetapkan sebagai pusat pemerintahan Kecamatan Bagan Sinembah.

Bacaan Lainnya

Pada masa dahulu, akses utama menuju Baganbatu dilakukan melalui jalur sungai. Sungai Alam (Simpang Kiri) menjadi lintasan penting bagi masyarakat yang ingin menuju perkampungan ini. Sungai tersebut berfungsi sebagai sarana transportasi utama, sekaligus urat nadi ekonomi masyarakat, menghubungkan daerah pedalaman dengan pesisir dan pelabuhan di Selat Malaka.

Wilayah Baganbatu berada pada ketinggian antara 6 hingga 10 meter di atas permukaan laut (dpl), dengan kondisi topografi yang relatif datar dan sedikit berawa di beberapa bagian. Secara geografis, titik koordinat Kantor Camat Bagan Sinembah terletak pada 01° 59’ 40.7” Lintang Utara dan 100° 27’ 47.4” Bujur Timur.

Kini, Baganbatu berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi dan perdagangan penting di Rokan Hilir bagian utara. Pertumbuhan ini didorong oleh pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, perdagangan hasil bumi, serta posisi strategisnya yang menjadi penghubung antara Riau daratan dengan Sumatra Utara. Meskipun telah mengalami modernisasi, jejak sejarah dan nilai budaya Melayu masih tampak dalam kehidupan masyarakatnya, terutama dalam adat istiadat, arsitektur rumah tradisional, dan kegiatan sosial keagamaan.

Penamaan Baganbatu
Penamaan Baganbatu bersumber dari cerita yang merupakan kelanjutan dari asal mula penamaan Bagansinembah.

Ketika sudah menjadi perkampungan yang ramai, toa pekong yang berhampiran dengan tempat tinggal orang Tionghua selalu dipugar menjadi bangunan yang lebih baik. Bermula dari Bagansinembah yang sangat sederhana mereka mengubah bentuk atau merehabilitasi menjadi bangunan yang megah dan kokoh. Bangunan ini pasti terbuat dari batu. Hakekat bangunan itu tetaplah sebagai tempat untuk kegiatan ritual. Karenanya, muncul pula sebuatan Baganbatu.

Versi lain tentang mitos asal mula nama Baganbatu bermula dari sebuah kampung yang bernama Kampung Ampayanrotan. Kampung ini terletak arah kiri Sungai Alam. Orang-orang yang bekerja untuk membuka kampung banyak menemui pokok rotan yang besar-besar, panjang-panjang, dan tinggi-tinggi. Karenanya, kampung itu disebut dengan Kampung Ampayan Rotan.

Kampung Ampayanrotan memiliki pelabuhan di Sungai Alam. Menurut cerita, pelabuhan yang dibangun oleh orang-orang Ampayanrotan tergolong megah. Dinding-dinding pada timbunan tanah di pelabuhan itu semuanya berasal dari batu-batu besar. Batu-batu itu disusun sedemikian rapi dan kokoh. Di lokasi pelabuhan itu terdapat rumah atau bagan untuk kemudahan orang-orang yang menggunakan pelabuhan batu itu terlindung oleh air hujan atau terlindung dari panas-terik mata matahari. Karenanya, pelabuhan di perkampungan Ampayanrotan disebut dengan pelabuhan baganbatu. Lama-kelamaan nama Ampayanrotan bertukar menjadi nama Baganbatu.

Rujukan:
Tim Peneliti Pusat Penelitian Kebudayaan dan Kemasyarakatan. 2010. Mitos Asal-mula Nama Tempat Di Perkampungan Melayu Kabupaten Rokan Hilir. Penelitian. Rokan Hilir: Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *