Singgam adalah permainan tradisional yang dimainkan dengan cara melambungkan batu kecil (batu pelambung) ke udara dan menangkapnya kembali sambil mengambil batu-batu kecil lain yang berserakan di tanah.
Permainan ini membutuhkan ketangkasan, kecepatan tangan, dan konsentrasi tinggi agar pemain mampu menangkap batu pelambung sebelum jatuh ke tanah.
Biasanya permainan ini menggunakan lima buah batu kecil berukuran serupa, yang permukaannya halus agar nyaman dipegang dan dilempar. Batu-batu ini bisa diganti dengan kerikil, biji karet, atau biji buah keras jika batu yang cocok sulit ditemukan.
Pemain dan Tempat Bermain
Permainan Singgam umumnya dimainkan oleh anak-anak perempuan berusia 7 hingga 12 tahun.
Jumlah pemain tidak terbatas, minimal dua orang agar permainan bisa berlangsung bergantian.
Permainan ini sering dimainkan di teras rumah, beranda, atau halaman rumah yang datar dan bersih. Kadang permainan dilakukan sambil menunggu orang tua bekerja, mengasuh adik, atau mengisi waktu luang sepulang sekolah.
Meskipun tidak terikat pada adat atau upacara tertentu, Singgam menjadi bagian penting dari kehidupan sosial anak-anak desa, terutama dalam mengisi waktu dengan kegiatan yang sederhana namun mendidik.
Aturan dan Tatacara Permainan
- Persiapan Awal
Pemain duduk melingkar di tanah atau lantai. Di tengah lingkaran terdapat lima buah batu kecil sebagai alat permainan.
Giliran bermain ditentukan dengan undian sederhana (sut) atau kesepakatan bersama.
Urutan giliran berjalan berlawanan arah jarum jam. - Tahap Permainan
Pemain pertama melempar satu batu kecil ke udara (batu pelambung) sambil melakukan serangkaian tahapan pengambilan batu di tanah.
Setiap tahap memiliki aturan tersendiri, dan permainan berlangsung berjenjang dari tahap mudah ke tahap sulit.
Seorang pemain dinyatakan “mati” atau kalah sementara apabila:
- Tidak berhasil menangkap batu pelambung sebelum jatuh ke tanah.
- Menjatuhkan batu lain dari genggaman saat bermain.
- Menyentuh atau menggeser batu lain secara tidak sengaja saat mengambil batu (disebut “tersinggung”).
- Salah melakukan urutan tahap permainan.
Jika pemain kalah, giliran berpindah ke pemain berikutnya. Permainan berlanjut hingga semua pemain mendapat giliran bermain.
Tahapan Permainan
a. Tahap 1: “Nyerak dan Ambik Satu”
- Semua batu dikumpulkan dan digenggam.
- Satu batu dipilih sebagai batu pelambung, dipegang dengan ibu jari dan telunjuk.
- Batu pelambung dilempar ke atas.
- Batu dalam genggaman diserakkan ke tanah.
- Saat batu pelambung masih di udara, pemain mengambil satu batu dari tanah dan segera menangkap batu pelambung sebelum jatuh.
b. Tahap 2: “Ambik Dua”
- Batu pelambung kembali dilempar ke udara.
- Pemain mengambil dua batu sekaligus, lalu menangkap batu pelambung sebelum jatuh.
- Jika jumlah batu lima buah, maka dilakukan dua kali pengambilan (2 + 2) dan terakhir sisa satu batu.
c. Tahap 3: “Ambik Tiga”
- Batu pelambung dilempar, batu yang berserakan diambil sebanyak tiga buah sekaligus.
- Untuk lima batu, biasanya dilakukan dua kali pengambilan (3 + 2 batu).
d. Tahap 4: “Ambik Empat”
- Batu pelambung dilambungkan lagi, dan pemain mengambil empat batu sekaligus.
- Jika jumlah batu lima, maka urutannya empat batu lebih dulu, kemudian satu batu terakhir.
e. Tahap 5: “Ambik Lima”
- Batu pelambung dilempar, semua batu yang terserak diambil sekaligus lima buah dalam satu kali kesempatan, lalu batu pelambung ditangkap kembali.
- Tahap ini merupakan tingkatan tertinggi dan menunjukkan keterampilan pemain yang sudah mahir.
Penilaian dan Pemenang
Sebelum bermain, pemain biasanya menyepakati sistem poin. Nilai bisa ditentukan antara 10 hingga 100 poin untuk setiap keberhasilan menyelesaikan satu tahap permainan.
Setelah seluruh giliran selesai, pemain dengan jumlah poin tertinggi dinyatakan sebagai pemenang Singgam.
Nilai-Nilai dalam Permainan
Permainan Singgam tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga mengandung banyak nilai pendidikan dan sosial, di antaranya:
- Ketangkasan dan koordinasi tangan-mata, melalui latihan menangkap dan melambung batu dengan tepat waktu.
- Kesabaran dan ketelitian, karena kesalahan kecil dapat menyebabkan kekalahan.
- Kebersamaan dan toleransi, karena permainan dilakukan bergiliran dan menuntut kejujuran antar pemain.
- Sportivitas dan rasa percaya diri, karena setiap pemain berusaha menyelesaikan tahap permainan dengan kemampuan sendiri.
Rujukan:
Rujukan: Putra, Derichard H.. 2024. Budaya Melayu Riau Kurikulum Merdeka untuk SD/MI Kelas V. Pekanbaru: Penerbit Narawita





