Lu lu Cina Buta

Permainan Lu Lu Cina Buta. (Ilustrasi: folklor.kosabudaya.id)

Lu Lu Cina Buta adalah permainan rakyat tradisional Melayu Riau yang mendramatisasikan gerak seorang “orang buta” yang berjalan sambil meraba-raba. Permainan ini sarat dengan keceriaan, keakraban, dan kebersamaan, serta sering dimainkan oleh anak-anak di waktu senggang — baik pada sore hari atau malam hari saat terang bulan, maupun pada pagi hari di sekolah sebagai permainan pengisi waktu jeda.

Biasanya permainan berlangsung selama 15 hingga 20 menit di sekolah, atau bisa mencapai 2 hingga 3 jam bila dimainkan di pekarangan rumah pada malam hari.

Bacaan Lainnya

Pemain dan Peralatan
Permainan ini dimainkan oleh 10 hingga 30 orang anak berusia sekitar 7 sampai 10 tahun. Anak laki-laki dan perempuan dapat bermain bersama tanpa perbedaan.

Alat yang digunakan sangat sederhana, yaitu sehelai sapu tangan atau kain kecil yang berfungsi untuk menutup mata pemain yang menjadi “Cina Buta”.

Tempat bermain sebaiknya tanah lapang atau halaman rumah dengan ukuran sekitar 6 x 5 depa, agar pemain dapat bergerak bebas.

Lagu Pengiring
Permainan ini diiringi oleh lagu rakyat sederhana yang dinyanyikan tanpa alat musik:

Lu Lu Cina Buta
Lu banyak tai mata
Lu berjalan teraba-raba
Lala terantuk janda tua

Dalam beberapa daerah, kata “janda tua” dapat diganti dengan “nyonya tua” atau “kuda tua” agar terdengar lebih lucu. Lagu ini menjadi penanda ritme permainan serta menghidupkan suasana kebersamaan di antara pemain.

Aturan dan Tatacara Permainan

  1. Menentukan “Cina Buta”
    Sebelum permainan dimulai, dilakukan sut atau hompimpa untuk menentukan siapa yang menjadi “Cina Buta”.
    • Jika lebih dari dua orang, pemain melakukan sut beruntun hingga tersisa satu pemain yang kalah — dia menjadi “Cina Buta”.
    • Dalam versi lain, pemain menggunakan permainan jari:
      • Kelingking menang melawan ibu jari.
      • Telunjuk menang melawan kelingking.
      • Ibu jari menang melawan telunjuk.
        Pemain yang kalah menutup matanya dengan sapu tangan dan berdiri di tengah-tengah lingkaran.
  2. Membentuk Lingkaran dan Bernyanyi
    Pemain lain berdiri mengelilingi “Cina Buta” sambil berpegangan tangan, membentuk lingkaran besar. Mereka berjalan berputar sambil menyanyikan lagu “Lu Lu Cina Buta”.
    Setelah lagu selesai dinyanyikan, semua pemain berhenti, lalu duduk mencangkung menghadap ke arah “Cina Buta”.
  3. Momen Tebak-Tebakan
    Pemain yang menjadi “Cina Buta” mulai berjalan perlahan sambil meraba-raba ke arah pemain lain untuk menebak siapa yang disentuhnya.
    • Jika tebakannya benar, maka pemain yang ditebak menjadi “Cina Buta” berikutnya.
    • Jika salah, permainan berlanjut, dan “Cina Buta” tetap berusaha hingga berhasil menebak dengan benar.
  4. Pergantian dan Ulangan
    Bila “Cina Buta” telah mencoba tiga kali putaran tanpa berhasil menebak dengan benar, permainan diulang dari awal dengan menentukan pemain baru melalui sut.

Peraturan Permainan

  1. Semua pemain wajib ikut bernyanyi selama permainan berlangsung. Siapa yang tidak bernyanyi akan dihukum menjadi “Cina Buta”.
  2. Pemain tidak boleh keluar dari lingkaran atau menghindari rabaan “Cina Buta”. Jika melanggar, ia langsung menggantikan posisi sebagai “Cina Buta”.
  3. “Cina Buta” hanya boleh meraba bagian kepala, bahu, atau tangan pemain. Dilarang menyentuh bagian tubuh lain. Jika melanggar, tebakannya dianggap batal.
  4. Pemain boleh mengatakan “cup!” bila ingin keluar sebentar dari lingkaran untuk keperluan mendesak (misalnya ke kamar kecil).

Makna Sosial dan Nilai Budaya
Permainan ini memiliki nilai sosial yang tinggi. Anak-anak dari berbagai lapisan masyarakat — baik anak orang berada, bangsawan, maupun rakyat biasa — bermain bersama tanpa membeda-bedakan status sosial. Dalam permainan ini, semua anak setara; yang penting adalah kebersamaan dan kesenangan bersama.

Suasana permainan sering diiringi oleh tawa dan nyanyian, bahkan para penonton — biasanya anak-anak lain — ikut bernyanyi dan berinteraksi dengan para pemain. Melalui permainan ini, anak-anak belajar:

  • Menjaga disiplin dan kejujuran,
  • Melatih konsentrasi dan kepekaan indra peraba,
  • Mengembangkan rasa kebersamaan dan sportivitas,
  • Serta belajar mengendalikan diri agar tidak melanggar aturan permainan.

Selain itu, permainan ini juga mempererat hubungan sosial antar anak-anak, memperkuat rasa persaudaraan, dan menumbuhkan kegembiraan bersama dalam kesederhanaan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *